@afriadyyradi: Pacar kamu, mungkin akan menghapus beberapa derajat persahabatan kita.
Beginilah kemudian kesendirian itu berawal. Orang yang mestinya kamu andalkan, malah mangkir ke percintaan antah-berantah. Momen seperti ini yang sayang sekali menjadikan pertemanan turun tahta dan hampir-hampir kehilangan arti. Kekasih tidak semestinya menjadikan persahabatan kita terlacurkan, terpinggirkan dengan beraninya. Termarginalkan ke tepi jurang kesetiakawanan. Namun kemudian hal ini membuat kita belajar bahwa kekasih akan mengurangi beberapa derajat kadar persahabatan kita. Kekasih kamu, kawan.
Monday, October 1, 2012
Ikhlas
@afriadyyradi: Mungkin kamu akan khatam mengenai ikhlas melepaskan ketika kamu telah berkali menjadi orang yang ditinggalkan.
Jika ditinggalkan oleh seseorang itu menyakitkan, maka akan lebih perih lagi jika seseorang lagi menyusul pergi. Lalu mungkin kamu akan menjadi orang yang belajar ikhlas setelah kamu merasakan menjadi orang yang ditinggalkan untuk ketiga-kalinya. Hanya butuh belajar, hanya perlu penyesuaian rasa. Bahwa siapapun itu, akan mengalami pergi. Pun akan merasakan ditinggal. Maka, mengapa kita tidak memetik hikmah dari keduanya itu?
Jika ditinggalkan oleh seseorang itu menyakitkan, maka akan lebih perih lagi jika seseorang lagi menyusul pergi. Lalu mungkin kamu akan menjadi orang yang belajar ikhlas setelah kamu merasakan menjadi orang yang ditinggalkan untuk ketiga-kalinya. Hanya butuh belajar, hanya perlu penyesuaian rasa. Bahwa siapapun itu, akan mengalami pergi. Pun akan merasakan ditinggal. Maka, mengapa kita tidak memetik hikmah dari keduanya itu?
I Miss You
@afriadyyradi: Oh I miss you now. I wish you could see. Just how much your memory will always mean to me.
Setidaknya semenjak kamu pergi aku bisa merasakan bagaimana rindu itu benar-benar dewa. Rindu yang merajut air mata dan kesedihan, menyulam hasrat dan keinginan yang menjadikanku begitu kompulsif. Rasa-rasanya aku laksana pecandu yang sedang sakau gulungan tembakau yang terbakar di ujung gulungannya. Bagaimana mungkin kamu bisa se-candu itu kepadaku? Bagaimana mungkin kamu bisa menyiksaku dengan hamparan rindu yang tidak berkesudahan? Inikah wujud penantianmu yang akhirnya kandas oleh cinta yang lain lalu kemudian meninggalkanku duduk sendiri di bangku taman peraduan kita? Inikah yang benar-benar kamu inginkan? Sayang, kamu telah membiarkan rindu saya menjadi mubazir. Sia-sia dan larut dalam kepercumaan.
Setidaknya semenjak kamu pergi aku bisa merasakan bagaimana rindu itu benar-benar dewa. Rindu yang merajut air mata dan kesedihan, menyulam hasrat dan keinginan yang menjadikanku begitu kompulsif. Rasa-rasanya aku laksana pecandu yang sedang sakau gulungan tembakau yang terbakar di ujung gulungannya. Bagaimana mungkin kamu bisa se-candu itu kepadaku? Bagaimana mungkin kamu bisa menyiksaku dengan hamparan rindu yang tidak berkesudahan? Inikah wujud penantianmu yang akhirnya kandas oleh cinta yang lain lalu kemudian meninggalkanku duduk sendiri di bangku taman peraduan kita? Inikah yang benar-benar kamu inginkan? Sayang, kamu telah membiarkan rindu saya menjadi mubazir. Sia-sia dan larut dalam kepercumaan.
Subscribe to:
Posts (Atom)